Resolusi

 

NOTE : 

Jika ingin membaca dari awal klik di sini

Resolusi

 

Malam di akhir Desember setelah aku melihat kemesraan dalam film di J-Walk, aku menuju lantai dasar. Aku baru menyadari malam itu deras sedang diperas. Aku berdiri di parkiran, kulihat sepasang kekasih yang kelihatannya akan menembus deras yang sudah mereda namun masih cukup untuk membasahi raga. Si lelaki berdiri di sebelah kanan si cewe, ia melepas jaketnya dan si cewe menengok ke rahnya. Kau tahu di mana romantisnya? Enggak ada, karena si cowok menggunakan jaketnya untuk memayungi dirinya sendiri. Ya, hidup kadang seperti itu yang kita harap belum tentu terjadi. Aku yang sudah menyapkan ponsel untuk memotret momen itu hanya bisa tertawa.

Aku berdiri memandangi gerimis yang seolah mengerti ada kesal yang harus diluapkan dengan tangis. Aku bersiap dan membungkus tasku dengan jas hujan, lalu aku memasukannya kembali ke bagasi agar lebih aman.

Aku berencana untuk menembus hujan dengan tidak menggunakan jas hujan. Aku rasa walau hujan suhu di kota ini masih hangat dan tak akan membuatku jatuh sakit.

Aku menyalakan motor dan perlahan menembus gerimis dengan playlist yang sudah aku dengarkan. Saat itu lagu “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah” dari Hindia yang diputar. Ternyata dugaan aku benar, gerimis malam ini jauh lebih hangat, dinginnya tak seberapa dibandingkan ketika kita memutuskan untuk saling meninggalkan.

Aku berbelok ke jalan Adisucipto menuju arah Solo. Aku tengok ke kanan dan kiri, pelan motor aku jalankan. Malam itu rembulan malu untuk menampakan dirinya, ambulan menyalakan strobo dan membunyikan sirinenya–kencang melaluiku. Tahu saja aku sedang berduka.  Helaan napas panjang dan pelan aku lepaskan. Menyadari bahwa kamu sudah saatnya tak aku perjuangkan “lagi”. Aku sudah sadar dari lama, namun aku tetap mengelak dari kenyataan yang sebenarnya. Hingga saat ini tiba, aku harus menghapusmu dari daftar prioritas. Artinya jika kita bertemu dan mungkin bersatu nantinya aku akan bersyukur akan hal itu. Namun jika kita tak pernah bertemu lagi aku juga akan berterima kasih kepada sang Kekasih.

Terakhir kita ketemu sudah bertahun entah kapan itu aku juga lupa, aku juga sudah lupa detail pesonamu, baumu, makanan favoritmu, bahkan suaramu tak mampu lagi aku dengarkan melalui khayalan. Namun anehnya, aku merasa kamu masih ada. Apa ini artinya? Cinta? Apa iya? TAIK KUCING-lah.

Sebagai penutup, aku teringat dialog dalam film yang kutonton sebelumnya kurang lebih seperti ini isinya “Hidup gua gak bisa di-retake jadi bikin sequel aja.” Artinya hidup tidak bisa diulang kembali, jadi lanjutkan saja sampai akhir–sampai gak bisa dilanjutkan lagi.




NOTE :
Certia selanjutnya klik di sini

Komentar

Postingan Populer