Kata Awal

 

    Â

 

Semoga saja kamu selelu bahagia di sana.

Walau kita tak bersama kuyakin rasa yang sama masih ada.

 

Semesta mempertemukan dan juga memisahkan kita,

Aku tidak mengerti apa tujuannnya.

 

Yang pasti aku denganmu menjadi sempurna,

Menertawakan hal kecil dengan hikmat dan penuh bahagia.

 

Semua itu, telah kita lalui bersama dan

telah terucap kata akhir di dalam cerita kita.

 

Kan kujadikan kau prasasti dalam pikiran ini

Menghancurkannya hanya akan menyakitiku amat dalam.

 

Aku akan selalu ada di tempat yang sama.

Kutunggu kau di sana, sampai jumpa.

 

    Â


 

Kata Awal

 

Kehilangan selalu menjadi kambing hitam yang berujung kebencian. Tapi tidak semua orang menyalahkan kehilangan atas terpisahnya dua insan. Semua orang pasti akan merasakan sebuah kehilangan, apapun itu wujudnya. Kehilangan barang idaman, hewan perliharaan, bahkan orang - orang tersayang. Pada hakikatnya semua yang ada di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri bukan milik kita. Semua itu milik Tuhan...

 

Kata ‘kita’ pernah tercipta, hal itu begitu indah dan tidak akan pernah kulupa. Aku dan dia satu tidak akan terpisah, namun nyatanya kini aku dan dia bukan lagi “kita”. Tidak ada lagi kata ‘kita’ di antara aku dan dia, yang ada hanyalah setumpuk kebencian yang tercipta akibat ego yang dijadikan raja dalam raga.

 

Untuk kita semua, menangislah tak usah ditahan - tahan, luapkan semua kepedihan yang terpendam. Bicaralah pada orang pilihan, pada Tuhan yang selalu ada untuk kita cerita. Teriaklah sepuas sekuat yang kau bisa, lalu hati lega dan kembali tertawa seperti biasa. Ada atau tiada duka, itu sebuah takdir yang harus kita lewati dengan lapang dada.

 

Untuk dia yang dulu selau ada dan kini telah tiada, aku memujamu sebagai wanita terhebat. Wanita yang pernah membuat seorang lelaki yang sulit meletakkan hati, menjadi benar-benar mencinta sepenuh hati. Kalau boleh dikata dia yang terindah yang pernah kukagumi. Kini aku sendirian dengan kekaguman yang masih tertancap dalam di hati. Dia telah pergi dan memilih untuk tidak kembali. Diri ini masih meresah akibat kisah yang teramat indah. Aku selalu siap jika Dia berubah pikiran, aku siap untuk bahagia dan patah kesekian kali, asalkan bersamanya aku mernulis kisah.

 

Kutuliskan ini supaya kau tahu kita ini sama-sama pernah kehilangan orang tersayang. Semua punya masanya masing-masing, begitu pula kebersamaan. Untuk kamu yang masih mempunyai orang tersayang, nikmatilah kebersamaan selagi masih ada dan semoga Tuhan tidak akan memisahkan kalian.

 

Salam hangat,

Rifky Yoga Prasetya


 



Note:
Untuk cerita selanjutnya silahkan klik di sini

Komentar

Postingan Populer