ANGIN BULAN SEPTEMBER
ANGIN BULAN SEPTEMBER
Angin bulan September
mengelus pipiku halus–pelan, terpaan cahaya jingga terpancar menyirami halte angkutan
kota yang sedari kupandang dari dalam kafetaria. Sendiri termanggu memutar lagu
Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah dari Hindia. Terputar dalam imajinasi–senyum
manismu pasti akan mengembang atau tangismu yang tak tertahan mengucur deras di
depanku saat ini, lalu aku mencoba menenangkanmu–Indah bukan? Namun sayang, pertengahan
tahun ini aku memilih untuk menyerah. Menyerah–pasrah tak akan pernah
memperjuangkan lagi segala tentangmu. Pertemuan di kota kembang lalu sudah
cukup untuk menutup kisah lama yang menurutmu sudah selesai sejak dulu, tapi
bagiku baru selesai saat itu. Obrolan ngalor - ngidul tanpa filter kita
curahkan. Rasanya dingin kota pun tak akan mampu menandingi dingin yang kurasa ketika
kau pergi ke dalam stasiun tanpa menengok lagi ke belakang. Itu pertanda bahwa
kamu sudah tak mau lagi untuk kembali dan itu harus kuturuti. Aku memilih
menyerah dan kalah. Sejak itu aku tak suka lagi rasa dingin.
Lampu kuning
kafetaria menyala menandakan hari sudah mulai gelap, sebentar lagi tinta gurita
akan menyelubungi kota ini, lampu bak gemintang di langit akan menyinari menggantikan
Mentari. Meikmati sendiri entah sampai kapan akan kujalani, sampai bertemu sang
Bunga Angrek atau Bunga Tulip? Entahlah.
Itu pilihanmu
dan ini adalah pilihanku, aku tak layak membenci pilihanmu dan aku akan
menerima segala konsekuensi atas pilihanku. Biar aku sendiri menanam dan
memupuk lagi rasa yang kaurenggut setengah mati, biar kurawat sepenuh kasih-sayang
yang kupunya agar nantinya, bunga yang kutemui tak perlu lagi merawat dan
menumbuhkan lagi rasa ini.
Untukmu terima kasih dan
kututup cerita ini sampai di sini.
TAMAT
NOTE
Jika ingin membaca dari awal klik di sini

kalem wirrr, cewe masi banyak di dunia ini enjoy aja
BalasHapushahah oke cook
Hapus