TAK SENYAWA
Note:
Jika ingin membaca dari awal silahkan klik di sini
Tak Senyawa
Dia telah berubah, meninggalkanku yang hampir musnah. Usahaku sia-sia
sampai pada di titik aku menyadari bahwa, jika sesuatu tak pantas lagi untuk
diperjuangkan, lepaskan. Karena, jika tak senyawa sekuat apapun usaha untuk mempertahankan
pasti tiada guna. Sehingga, aku tak perlu lagi mengemis akan hadirnya, tak
perlu lagi menangis akan sakit yang dia berikan seenaknya. Aku berhak untuk
bahagia, aku berhak untuk lepas dari segala kekang yang membelenggu; masa lalu.
Diri ini lelah, muak, sudah aku tak akan pernah lagi mengharapkanmu. Jadi
enyahlah dari hati yang telah porak-poranda ini, enyahlah tak perlu kembali
pada diri ini, enyahlah tak sudi jika ku-kaubantu untuk memperbaiki semua ini;
aku bisa sendiri. Aku adalah sampah yang kau buang, dan jika suatu saat orang
lain memungutku jangan pernah kaurebut aku darinya. Jika kau ada niatan untuk
kembali, pupuslah niatan itu, jangan kaurusak lagi kebahagiaanku.
Rindu yang menggunung itu akan kubakar dengan api amarah yang menggebu,
menjadi abu dan terbang ke segala penjuru. Lalu menyburkan bibit rindu untuk
orang yang baru. Akan kusiram dengan tangisku, akan kuurus dengan rasaku.
Perihal pesan-pesan itu slilahkan kaukirim sesukamu seperti dulu, aku tak
akan pernah lagi menanggapinya dengan hati. Dulu aku begitu, notifikasi pesan
darimu saja bisa menggetarkan jiwaku. Namun, sekarang tak akan pernah kubiarkan
diri ini menganggap istimewa semua itu. Silahkan kaulakukan apapun sesukamu,
aku tak akan peduli lagi. Kini semua sudah pasti, aku berhenti.
Pergilah aku rela
Kembali, aku tak peduli


Komentar
Posting Komentar