DRAFT SI PENGECUT

Note:

Jika ingin membaca dari awal silahkan klik di sini

Jika ingin membaca sambil dengerin lagu silahkan klik di sini 



Draft Si Pengecut

 

“Hai, kamu apa kabar?”

“Gimana harimu, baik-kan?”

“Gimana kuliahmu, tugasnya menyebalkan-kah?”

“Teman-temanmu di sana memperlakukanmu dengan baik-kan?”

“Oh ya, hari ini aku lagi bahagia. Mmm, soalnya salah satu tujuanku tercapai ya... walau gak sepenuhnya sesuai ekspetasi aku. Kalau kamu gimana, baik-baik aja kan?”

“Ketemuan yuk?”

“Eh, BTW kamu udah punya pendamping? Hahahaha”

“Kamu rindu aku gak si? Kalo aku iya, merindukanmu. Ce elaah lebay bet yak.”

 “Kalo kita ketemu, kamu mau apa? Aku sih paling hanya bisa bicara dengan gugup sambil salah tingkah gak jelas.”

“Kamu nyesel gak si, kenal sama aku?”

“Jalan-jalan lagi yuk, kayak dulu. Seru tau”

“Kok aku bisa rindu kamu yah?”

“Hai, setelah kamu memutuskan untuk gak lagi ingin berjalan di sampingku, aku... entahlah aku gak bisa mengatakannya. Yang pasti, aku terpuruk saat itu.”

“Besok kamu mau ke mana?”

“Boleh-kan aku merindukan kamu?”

“Eh, gak kerasa yah udah banyak November kita lalui tanpa kebersamaan, saling sapa pun enggak. Setiap November aku selalu teringat sebuah peristiwa itu, di mana kita telponan sampai pagi, menceritakan keluh kesah kita, saling mendengar. Aku nyaman tau saat itu. Saat cerita aku gak takut diacuhkan, dipandang rendah, atau gak didengerin. Aku percaya kamu, aku sayang kamu. Ulangi lagi yuk? Heheheh. Kalo boleeeeh.”

Berbagai pertannyaan untuknya yang ingin aku sampaikan melalui pesan singkat yang tak pernah terealisasi hingga kini. Entahlah, aku gak ada keberanian untuk memulainya. Mungkin akan aku lakukan suatu saat jika itu memungkinkan. Pernah gak sih kamu merasa takut jika salah bertindak? Pernah gak sih kamu takut jika usahamu tidak dihargai? Pernah gak sih kamu takut menjadi semakin jauh jika kamu mengatakan suatu hal itu? Pernah gak sih kamu mengalami kebimbangan atas apa yang akan dilakukan?

Aku manusia yang terlalu pengecut untuk itu semua, mengaguminya sekaligus menyakiti diri sendiri akibat terlalu pengecut. Bangsat... aku juga gak mau menjadi sepengecut ini. Sialan... Kata mereka kesempatan gak akan datang dua kali, iya aku tahu itu, dan bagiku gak mudah untuk langsung mengambil kesempatan itu. Sampai pada saatnya aku membaca kalimat “Lebih baik hidup dalam penolakan daripada hidup dalam ketidakpastian.” Hmmm, aku setuju. Namun sekalli lagi, itu gak mudah bagiku. Mungkin bagi kamu juga?

Semangat wahai para pengecut dari aku yang juga pengecut. Kita suatu saat passti akan sampai pada titik dimana berani untuk segala hal itu. Pada akhirnya pesan-pesan itu akan menjadi sebuah tindkan bukan hanya sebagai draft yang memenuhi penyimpanan gaget. Percayalah.

 

 

Ada semburat yang tak nampak

Ada rindu yang tak terucap

Ada rasa yang tak sampai

Ha ha ha, itu salahmu sendiri

Pengecut

 



Note :

Untuk cerita selanjutnya silahkan klik di sini

Komentar

Postingan Populer