Senin Malam
Note:
Jika ingin membaca dari awal silahkan klik di sini
Senin Malam
Senin malam di tengah lampu yang temaram, kenangan itu kembali menghujam. Tajam, begitu tajam hingga menembus hati yang legam. Sunyi ikut berkolaborasi dalam diri, menambah luka tanpa disadari. Kamu di mana? Aku butuh pelukmu, aku butuh hangatmu. Hanya kamu yang dititah Tuhan untuk menyembuhkan lukaku. Lukaku tak parah, hanya saja sulit mengering dan terus meraung.
Lalu yang aku bingung, rasa ini tetap ada walau cerita kita telah berakhir menahun lamanya. Tuhan juga tidak ingin aku melupa tentangmu, dengan segala rindu dan secercah kabarmu. Ruang riuh kafetaria membuatku semakin sunyi. Sendiri di pojok ruangan dengan lampu yang menyinari di atasku. Asap rokok yang membumbung membuatku semakin sesak dalam isak.
Tanpamu, aku merasa sedang tidak di mana - mana. Hilang arah tujuan. Aku tersesat dalam labirin kesakitan, terus di situ entah sampai kapan. Aku banyak menyakiti orang yang ingin masuk lebih dalam. Orang - orang yang ingin memilikiku, orang - orang yang mencintaiku dengan tulus. Aku tak sanggup membalas mereka, aku menolak mereka mentah - mentah.
Bagai rumah yang ditinggal sekaligus kuncinya ikut menghilang bersama pemiliknya. Rumah itu kini tidak ada orang yang bisa memasukinya. Jaring laba - laba terlihat jelas di setiap sudut rumah. Rumput juga tak mau kalah, ia tumbuh semakin tinggi dan tak pernah dipotong lagi. Terasnya pun terlihat kotor. Pada akhirnya rumah itu tiada yang peduli..
Rumah akan tetap sama, hanya penghuninya yang berbeda. Kecuali tuan rumah kemmbali dan merawatnya lagi. Aku di sini dengan rasa yang masih sama semenjak kita bertemu sekitar sewindu lalu.
Aku ingin jatuh cinta kepada selainmu, namun hati ini tetap ingikan aku kembali padamu atau menunggumu kembali kepadaku. Aku rindu. Peluklah aku, hangatkanlah aku di setiap malamku. Ketika dalam perjalanan dan melihat sepasang kekasih tertawa di atas motor, telintas bayangmu. Bayangmu yang menepuk helemku tanpa merasa dosa, tertawa lepas tanpa ada beban, dan segala bahagia ketika bersamamu. Bersamamu bahagiaku sempurna, dan kini aku berada dalam ketidaksempurnaan berbahagia.
Aku rindu
Cerita selanjutnya klik di sini

Komentar
Posting Komentar