Asing
Asing
Sebelum kita seolah menjadi dua orang asing di tengah keramaian, aku pernah berpesan “Kita akan baik - baik saja.” Ucapku padamu, dan sekarang kita sedang tidak baik - baik saja. Ada dendam di dalam dada, ada raut benci di muka, ada air yang siap ditumpahkan di pelupuk mata. Aku juga pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa ujian untukku seberat ini? Aku sampai tertatih memikul semua derita, tentunya sendiri. Kamu entah ke mana.
Hari itu kita bertemu di sebuah sekolah penuh kisah pun kasih, saialnya kita hanya dipisahkan jarak tak sampai satu meter. Namun, kita sama - sama berperan sebagai dua orang asing yang tak pernah saling kenal. Tiada raut bahagia yang kau tampakan, yang bisa kunikmati hanya semerbak parfum yang kau kenakan di kulit dan pakaianmu. Tidak ada lagi senyum, apa lagi tawa, kini rasanya mustahil pada setiap pertemuan kita. Aku menghirup lama baumu, dan ternyata baumu telah berubah. Semua telah berbeda ketika kita tak lagi bersama, kecuali hati ini yang masih mendamba.
Harus berapa purnama lagi aku menunggu rasa ini pudar? Aku tak pernah tahu kapan itu akan terjadi lalu hilang. Setidaknya agar diri ini tidak terus mengingat dan rasa sakit tidak lagi menjangkit di kala sendiri menghampiri. Sesibuk apapun aku, rasa ini masih saja terasa dan tak pernah terlupa. Mengapa? Mengapa kau tanamkan itu sangat dalam, hingga akarnya mengikat kuat dalam diri? Ah sudahlah.
Ya memang, dunia ini memang panggung sandiwara, dan jika sandiwara itu harus terus tidak mengenalmu, aku tidak akan sanggup menjalaninya sampai akhir cerita. Aku bisa saja beralih peran lain atau berhenti bermain.
Aku masih yakin suatu
saat kamu akan kembali seperti semula sebelum cerita kita dipaksa berakhir
dengan sengaja. Kembali terseyum di depanku dan menjadi sosok yang sebenarnya.
Kebahagiaanmu mungkin bukan aku, tapi
kebahagiaanku masih kamu. Entah nanti. Tuhan mudah untuk membalikan semua
keadaan, apapun itu akan menjadi nyata jika Ia kehendaki.
Senyummu itu, aku sangat ingin melihatnya lagi, sebelum kita benar - benar dipisahkan jarak dan ruang hampa. Aku ingin sekali saja untuk merasakan dekapmu, sebelum dekap orang lain yang menghangatkan tubuhku pun tubuhmu. Air matamu ingin kuseka sekali ini saja, sedihmu ingin kuubah menjadi bahagia untuk kali ini saja. Aku ingin membuat kisah ini berakhir indah tanpa patah. Tapi apakah mungkin perpisahan itu bisa berubah menjadi indah? Karena bagiku perpisahan tetaplah perpisahan, yang tak terasa sakitnya semakin lama semakin menggerogoti diri ini.
Kumohon kembalilah. jikalau tidak, tak usah mengajakku memerankan peran lain di panggung sandiwara
ini. Aku ingin menjadi aku di dekatmu ketika kita bertemu. Akan tetapi semua usaha yang kujalani pada akhirnya sia - sia, kamu dan aku tetaplah harus
berperan sebagai dua orang asing di tengah kerumunan orang.
Tiada
yang lebih sakit dibanding
harus
berpura - pura menjadi dua orang asing,
padahal sebelumya pernah menjadi yang paling tersayang

Komentar
Posting Komentar