Apa Aku Menjawabnya?
Apa Aku Menjawabnya?
Tanpamu, tulisan - tulisanku berubah menjadi sebuah kisah pilu. Bahagia hampir gak tampak lagi pada tulisan - tulisanku. Bagai tempat sampah yang menjijikan, namun amat berharga untuk sebagian orang. Aku tanpamu hanya sebatas debu dalam dunia yang kelabu. Ibu - ibu yang hampir setiap pagi melihatku murung dan membuatnya bertanya apa yang membuatku seperti itu. Apa aku menjawabnya? Jelas enggak. Aku hanya bisa tersenyum dan bilang “Gak papa.” Bapak - bapak di pos Kamling juga bertanya hal yang sama. Jawabanku masih sama. Pun teman -temanku yang penasaran dengan hal yang sama.
Hampir di setiap keramaian pun aku memilih untuk menyendiri, entah itu dibarengi membaca buku atau sekedar mendengarkan lagu. Untuk saat ini rasanya menyendiri jauh lebih menenangkan jiwa ini. Aku juga jadi lebih pemalas dari biasanya, ya walau kemalasanku yang biasanya gak biasa.
Sebuah patah itu memang pahit, namun yang pahit juga bisa menjadi obat. Menikmati setiap irisan, tegukan dan suapan. Sebenarnya, gak perlu melupakan apa yang menjadi hal terburuk dalam hidup. Jujur, aku membutuhkan itu, untuk berkaca. Akan tetapi, aku juga membenci itu ketika mengingatnya.
Aku juga pernah ingin mendekati seeseorang, namun kuurungkan itu, juga ketika ada seseorang yang mendekatiku, aku malah menghindarinya sekuat tenaga. Aku juga gak tau mengapa hal itu bisa terjadi. Aku merasa hatiku tetap di kamu, jadi sekuat apapun mereka mendekatiku, itu hal yang sia - sia saja. Ataupun ketika aku mendekati seseorang, itu hanya sebatas ingin saja. Hanya nafsu belaka, bukan sebenar - benarnya cinta.
Ingin itu bersifat materalisme, namun cinta yang
sebenarnya lebih dari itu. Adalah kadar suci dalam diri. Gak akan pernah ada
siapapun mampu untuk menyentuhnya apalagi mencipakannya. Ya, kecuali Tuhan.
Hanya
Tuhan yang bisa menentukan
cintaku
jatuh pada sesiapa yang dikehendaki-Nya
Note:
Untuk cerita selanjutnya silahkan klik di sini

Komentar
Posting Komentar