Tetesan
Tetesan
Aku
tidak pernah menyangka, semua itu akan berakhir secepat ini. Aku kira kami akan
bersama sampai mati dan bertemu lagi di dimensi lain yang abadi. Kini dia sudah
benar - benar berubah. Memang benar yah, orang yang pernah sayang dengan teramat
biasa membenci dengan teramat juga. Seperti dia saat ini, semoga saja dugaanku
ini salah. Karena dia yang kukenal adalah orang yang baik dan pemaaf. Bukan
pendendam yang setiap kali bisa membinasakan siapa pun yang dirasa pantas
mendapatkannya.
Aku
tak akan pernah membenci dia, satu tetesan pun tidak akan pernah aku tuangkan
padanya. Aku tiada berhak untuk membencinya. Bagaimanapun, dia pernah membuatku
menjadi salah satu orang yang paling bahagia di dunia.
Kisah
kami tidak sehebat Rama dan Shinta, kisah kami sederhana. Namun, kesederhanaan
itu membuat kisah kami berakhir dengan begitu saja. Tanpa aba - aba, apalagi
kata perpisahan yang pantas tuk diucapkan. Aku mencintainya dengan sederhana,
namun mengapa sakitnya datang dengan begitu parahnya?
Di
setiap kegelapan malam aku bernegosiasi dengan Tuhan. Aku ingin Tuhan
menyatukan lagi kami dalam satu pelukan. Aku inginkan dia untuk menyemangatiku
lagi di setiap langkah yang kujalani.
Aku
mulai sadar adanya jarak di antara kami, mungkin itu cara semesta membuat
pertemuan kami akan lebih bermakna nantinya. Jika pertemuan itu tak terwujud,
aku akan menderita dengan seksama.

Komentar
Posting Komentar