November

November

 

November, bulan di mana mulai muncul persetruan. Kita saling diam bak perang dingin berpuluh tahun silam. Aku masih penasaran akan terjadinya perpisahan. Apa sebabnya kamu tiba - tiba membisu? Tanpa bahasa, tanpa gestur yang seperti sebelumnya. Aku masih penasaran, apa alasanmu menjadi seperti itu? Aku-kah sebabnya? Kebosanan-kah yang melanda? Atau apa? Sekiranya kamu jelaskan, mungkin hal semacam ini tidak perlu terjadi pada diri. Diri kita masing - masing yang sekarang saling memeluk kehampaan yang nyata.

 

Memang, saat itu aku lebih mementingkan ego, ketika kamu diam aku pun begitu. Asal kamu tahu, aku ini mengharap kamu berbicara tentang hal apapun itu; kebencianmu terhadapku misalnya, kamu menginginkan apa? Aku mengharapkan semua itu keluar dari mulutmu, tapi kamu memilih membisu.

 

Semuanya salahku, salah dalam menanggapimu, salah dalam mengerti tentangmu, salah dalam mencintaimu. Rasa sakit ini, semua berawal dari diriku sendiri, dari aku yang mulai mencintaimu kala itu. Cinta itu tidak bisa ditolak pun di hindari. Aku, kamu, dan semua manusia di dunia bisa jatuh cinta pada siapa saja.

 

Sumpah serapah kerap aku keluarkan pada kehidupan. Menjijikan, sehina itu aku ketika tidak lagi bersamamu. Biasanya pelukmu yang menenangkan aku, ucapanmu yang membuat amarahku menjadi tawa. Aku juga punya pertannyaan untuk semesta. Jika denganmu adalah kebahagiaan yang sebenarnya, mengapa kita dipisahkan oleh semesta?

 

Seperti kata orang - orang, mungkin semesta memisahkan kita, agar kita tahu akan perihnya perpisahan dan memperbaiki diri untuk sebuah pertemuan di titik paling sempurna menurut semesta. Aku meyakini itu, entah dirimu.

 

Setiap aku diam dalam renungan dan lagu - lagu sedih yang melintang di tellinga, bersama bayangmu aku menyatu. Keramaian pun tidak bisa merebut perhatianku. Aku nyaman dengan semua itu. Aneh, bagi mereka yang tidak tahu. Aku yang belum bisa beranjak dari masa lalu bisa apa ketika mereka bicara seperti itu? Melawan? Gak ada gunanya. Lebih baik diam menghemat energi yang tak perlu dikeluarkan untuk hal yang tak penting.

 

Kamu pikir tanpamu aku bisa baik - baik saja? Tentu bisa, tanpamu aku bisa baik - baik saja. Hanya ada yang kurang, namun entah apa. Jika makanan aku ini sudah memiliki empat sehat, dan sempurnaya di kamu. Mungkin itu.

 

Sebanyak apapun kesibukan, semua itu tak akan sanggup untuk menimbun kenang bersamamu. Aku kadang ingat kamu di sela - sela tugas yang menumpuk, apakah kamu juga begitu? Jelas jawabanya tidak, atau perkataan kemarin itu hanyalah sebuah alibimu saja? Hahaha, aku masih jelas mengingatnya, walau pesan - pesan itu sudah kuhapus lama. Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa begitu, mengapa aku tidak bisa melupamu.

 

Foto - fotomu yang kuambil dengan sembunyi - sembunyi pun sudah kuhapus, anehnya memoriku masih mengingat setiap dirimu dalam karyaku. Persetan dengan semua itu, aku masih mencintaimu sampai detik ini. Aku tak peduli semua kata orang, aku tidak peduli lagi akan foto - fotomu yang kini telah menjadi abu. Aku mencintaimu. Aku. Perihal rindu, rindu itu akan selalu ada ketika pertemuan kita belum juga direstui Semesta.

 

Oh ya, aku juga mengingat ketika November tahun lalu kau mengubungiku pada malam hari yang suci. November itu adalah November bertahun setelah November perseteruan itu. Kita bicara apa adanya, semakin malam semakin terbuka. Rinduku sedikit terobati pada saat itu. Malam berlanjut dini hari, kita masih saling bertukar obrolan yang sepele namun amat berharga bagiku. Sekali lagi, persetan dengan apa kata orang.

 

Aku mencintaimu. Masih. 



Note:

Untuk cerita selanjutnya silahkan klik di sini

Komentar

  1. Merasa kehilangan pdhl tak pernah memiliki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memangnya apa yang sekarang kamu miliki?
      hihihihi,

      Hapus
  2. Terimakasih sudah tetap mencintaiku di november.. dan asal kamu tau, kamu tidak patah sendirian, karena aku pergi bukan karena salahmu tapi ini pilihanku yang begitu kejam hingga akhirnya kita sama sama patah untuk masing masing.
    kiwwwww:))))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wejangan ini menerap dalam diriku "Tong lumampah sanajan ngalengkah." Hatiku tetap di kamu ke mana pun, sejauh apapun aku melangkah.
      hisss

      Hapus
    2. eh, emang kamu teh siapa ya? hahahhaa. Kuyakin ga mungkin dia. hahahha

      Hapus
    3. benar katamu, hati ini tetap disini seperti dulu tapi sakit rasanya ketika aku harus sadar akan keadaan yang memaksa kita tak lagi bersama.

      aku mungkin adalah orang yg kamu kira, dan mungkin juga bukan orang yg kamu kira. Karena aku juga tak tau apakah perasaanmu itu sama denganku atau mungkin tidak..

      Hapus
    4. Aku gak tahu harus menjawabmu seprti apa. Terima Kasih yah udah pernah ada.

      Hapus
  3. Pernah ingin, sebelum jadi angan��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keika cinta hanya sekedar ingin. menurutku itu bukan cinta. Ketika aku sudah cinta, aku tak akan mengharapkan apapun dari orang yang aku cinta.

      Hapus
    2. Asal kamu tahu juga, perihal mencintainya, aku tidak pernah menginginkan hal itu. Yang Maha Cinta yang memberikan anugerah itu padaku, dan aku gak bisa menolak. Yaaa, gitu deh.

      Hapus
  4. Yang masih jadi pengagum rahasia atau sebutan keren nya secret admirer sebaiknya nyatakan perasaan lo sebelum terlambat. Ga peduli lo cewe apa cowo, selama kita ada rasa kenapa ga diungkapin? Urusan respon mah belakangan. Inget, penyesalan selalu ada diakhir. YAHAHAHA HAYYUUKK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, keren nih sarannya. Ga nyoba ga tau hasil. Ya kan?
      Selamat berjuang untuk para pengagum rahasia.
      Aku jadi inget kata temenku "lebih baik ngungkapin-lah. Soal dia nerima atau engga pikir belakangan. Jika nerima ya sukur dan kalau engga ya risiko."
      Kata dia kurang lebih gitu

      Hapus
    2. Kalo ditolak, cari duit yang banyak terus langsung nikahin. Kali aja lu bawa pajero kerumah orang tuanya terus direstuin.

      Hapus
    3. Supra aja biar mesra, hahaha. Pajero mah dikandangin aja.

      Hapus
  5. menyesal boleh menyerah jangann:)) bersyukur pernah mengenal dan saling kenal aja sudah sangat membuat bahagia, bagaimana jika sampai dapat memiliki.. rasa bahagia ini sangat sederhana meski hanya saling bertatap dan bertemu sapa dengan nya:)))

    BalasHapus
  6. Jikalau memang takdir mu dengannya semoga tuhan mempertemukan kamu dengannya pada keadaanya yang lebih baik, tapi jika takdir berkata tidak, semoga tuhan mengirimkan pendamping untuk mu yang bisa mengobati semua luka mu...dan menghapus semua kenang mu dengannnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Kenagan mah ga perlu dihapuskan, karena aku banyak belajar dari situ. hehehe. Terima Kasih Yah

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer