Pasar Minggu
Pasar Minggu
Hari minggu mengunjungi pasar Minggu yang tak pernah sabar untuk menunggu, orang-orang pun harus terburu-buru agar tak ditelan waktu. Peron-peron itu terisi separuh dan begitupun hatiku yang merintih tak mampu menahan rindu yang terus-menerus bersimpuh. Satu rangkaian KRL dari arah Bogor berhenti tepat di hadapanku. Aku hanya diam terpaku melihat orang-orang berjibaku masuk rangkaian walau seluruh gerbong terlihat sudah terisi penuh. Berimpitan tak peduli perbedaan kelamin. Dari Poin Of View CCTV aku melihat diriku yang masih dalam keadaan yang sama, mematung terduduk di tempat duduk peron menatap kosong keadaan sekitar. Semua pergerakan di sekelilingku terlihat amat cepat sampai menimbulkan motion blur seolah kamera menangkapnya dengan sutter speed ‘2.
Seketika seorang menabrakku tak sengaja. Dia? Apakah itu dia? Dia seorang yang satu tahun lalu aku temui di kota ini setelah di kota sebelumnya kami hanya bertatap mata tanpa mau menanggalkan “mahkota”. Aku yakin itu dia, dari belakang terlihat amat sama, rambut bergelombang sebahu yang ditata rapi, tubuh mungilnya yang ringkih berjuang menembus keramaian peron, sepatu putih dengan aksen garis tiga berwarna hitam yang selalu kuingat setidaknya sampai saat ini, celana jeans hitam yang melekat dipadu-padankan dengan jaket putih berbahan parasut yang amat selaras dengan perawakannya yang hanya setinggi 160-an CM namun menawan. Dia berbalik dan menengok ke arahku dengan gerakan lambat, ia mengenakan masker berwarna hitam sama dengan kaus polos yang dikenakannya. Dunia berhenti sejenak begitu juga dengan jantungku. Mata dan alisnya begitu sama. Ia membuka maskernya dan berkata “Maaf” seketika aku tersadar dan waktu berjalan sebagaimana harusnya, dan~ wanita itu pun bukan dia. Sejak pertemuan pertama sekaligus terakhir, setelah pesanku tak berbalas, setelah pencarianku tak menemukan terang, aku yakin dia masih ada di kota ini. Namun sialnya jika seorang itu masanya sudah habis, mau sedekat apapun jaraknya semesta tak akan pernah mempertemukannya lagi. Semesta selalu punya cara untuk aku dan dia tak akan bertemu “lagi” entah itu kami melewati satu lorong yang sama namun dia berbelok ke lorong lainnya sehingga aku tak berjumpa dengannya.
Dia adalah rasa yang kembali tumbuh setelah patah yang begitu dan dia adalah patah itu sendiri untuk kesekian kali. Dalam kesendirian dan mati rasa aku berpetualang kesana-kemari mencari peruntungan bertemu seorang yang akan memberikan makna berarti. Sering kubayangkan sepertinya akan asik sekali jika perjalanan ini disertai orang yang kukasihi. Bercerita di tepi tebing tinggi sambil menatap mentari yang perlahan menghilang di ujung bumi. Cakrawala yang mulai menghitam, alunan musik alam mengalun, dua cangkir teh berdenting lalu ditelan masing-masing menyisakan ampas yang tak disaring. Nikmatnya mungkin tak akan bisa kuuraikan karena momen itu begitu agung. Aku perenah berpikiran juga, perjalanan dengan orang yang tepat akan terasa amat bermakna dan ingin sekali berlama-lama seolah ingin seperti itu selamanya. SELAMANYA…

Komentar
Posting Komentar