Dia Benar-Benar Pergi?
DIA BENAR - BENAR PERGI?
Eligi pagi
melengking menyambutku tatkala kegelapan pergi diusir sang rawi, dan yang
kunanti setiap tersadar pun tak kunjung kembali setelah pertemuan yang singkat
di kala awan menutupi bumi. Kabar burung juga tega sekali membuatku khawatir
dengan tak mengirimkan bisikan apapun tentang
binar mata atau kelopak matanya yang sayu-menawan itu. Wanginya juga tak
pernah kucium lagi, angin tak mampu membawanya menembus rentang yang
membantang. Spektrum suaranya sudah kulupa, aku juga heran apa sebabnya.
Apakah dia
akan Kembali?
Jika iya,
bagaimana caraku menyambutnya?
Apakah
pertemuan saat itu adalah pertemuan terakhir?
Jika iya, apa
alasanya?
Apakah dia
benar - benar pergi?
Jika Iya,
bagaimana aku hidup tanpanya?
Apakah aku
harus tetap menanti?
Jika iya
sampai kapan?
Le coup de foudre istilah yang dapat menggambarkanku Ketika pandangan kami bersua untuk pertama kalinya. Ambigu rasa saat itu, aku bingung itu rasa apa. Namun, dapat dipastikan dia berhasil melepaskan sukma yang selama ini dikunci. Lepas–bebas sukma itu bersenandung–berdansa setiap hari. Menunggu pesan singkatnya adalah aktifitas yang menyanangkan saat itu. Akan tetapi, saat ini aku harus menyadari bahwa semua akan berlalu. Mungkin dia termasuk pada sesuatu yang sudah berlalu? Kalau kata kebanyakan orang “Biar waktu yang menjawabnya”
Bandung, 6 November 2024

Komentar
Posting Komentar