Tebet
Tebet
Pepohonan memayungiku dari terik matahari sore di jalan kecil dengan banyak orang yang tak tahu diri parkir sembarang. Angin sore sesak mengikat paru, gerah mengerubungi tubuh, bau got menusuk hidung tak tahu malu. Namun, tempat ini masih jadi pemenang dari tempat - tempat indah lain di Jakarta, kafetaria berjejer, tak bingung untuk mencari tempat singgah atau hanya untuk sekedar mengisi perut di pinggir jalan sebelum meminum segelas kopi di kafetaria dan nongkrong sampai berjam - jam. Makan di pinggir jalan dengan pemandangan orang - orang yang entah mau kemana tujuannya, mungkin pulang, mungkin hanya jalan - jalan sepertiku, itu menyenangkan, berinteraksi dengan pengamen dan memberinya hadiah atas suaranya yang parau dihempas kenyataan yang kacau.
Rumah - rumah gedongan yang membuatku berkhayal suatu saat nanti aku akan memilikinya dengan seorang wanita yang entah siapa. Mendesain sendiri ruang - ruang di rumah, memilih hiasan - hiasan apa yang cocok, penerangan yang hangat, dan sebuah area terbuka untuk sekedar ngobrol dan memadu kasih misalnya.
Kini kain hitam raksasa mulai menyelubungi langit Tebet dan lampu - lampu jalan menyinari dengan kuyu – layu layaknya manusia setelah menghadapi omelan bos yang tak mau mengerti akan keadaannya. Karenanya, sedikit demi sedikit aku mengerti mengapa lagu - lagu Hindia begitu populer di kota ini. Tentang sesak yang tak berani diungkapkan, tentang perayaan - perayaan kecil yang harus dirayakan, tentang waktu - waktu yang perlu dihabiskan dengan orang tersayang, tentang persahabatan, tentang arti hidup yang bisa kau lukis sendiri maknanya.
Di sini “Zona nyaman” dua kata lucu dengan taburan ironi yang memenuhi kenyataannya. Dua kata yang hampir musnah dalam diri orang yang mereka bilang menengah ke bawah secara ekonomi. Tapi anehnya, di lingkungan seperti itu kadang lebih solid dan menyenangkan dibanding lingkungan atas yang saling sikut dan menindas untuk sebuah kata “Kekuasaan” Aku muak dengan kota ini? Hampir, namun orang - orang di sekitarku sekarang yang menguatkannya, bahwa aku bisa melalui ini semua.
Selanjutnya, apa kau pikir aku memilih kota ini untuk tumbuh? Apa kau tak berpikir bahwa kota ini yang menjeratku ketika aku sekedar menapakan kaki di secercah tanahnya? Kota yang banyak orang “daerah” idamkan untuk mencari sesuap nasi, namun ketika mereka datang kadang harapan itu musnah dan kerap membunuh jiwa yang lugu itu. Kegiatan yang monoton setiap harinya bagi “budak korporat”: berangkat kerja – macet - macetan – kerja sampai larut dengan bonus tipes – pulang – macet - macetan – kesepian – istirahat begitu terus. Setidaknya itu yang kulihat setiap berjalan keluar. Satu kalimat untuk kalian semua “tetap kuat, jangan menyerah soalnya masih banyak tempat viral yang perlu didatangi, dan akhiri dengan senyuman bangga walau hanya diri sendiri yang melakukannya.”
Rifky Yoga Prasetya
Jakarta Selatan, 26 April 2025

Mantap
BalasHapusUhuuy
Hapus