Menuju AKhir
Menuju Akhir
Desember menuju akhir 2023 yang sangat mengesankan, aku ingin bercerita tentang angin di pertengahan tahun. Angin membawaku bertemu dengan seseorang yang berhasil mengetuk pintu yang selama ini dikunci bertahun lamanya. Menyuburkan kembali tanah yang tandus, menumbuhkan bunga yang tak pernah tumbuh. Rekah–cerah tak mampu dideskripsikan, hanya bisa dirasakan tanpa penolakan. Ketika aku mengintipnya lagi dari balik pintu, aku ingin sekali membukakan pintu dan berkata “Selamat datang, dan silahkan masuk.” Lalu menyediakan hidangan yang hangat setelah dimasak. Tanpa aba - aba kabar burung menembus telingaku yang membuatku sedikit menjauh dari pintu. Aku yang tak percaya lalu mencari tahunya dan benar saja, burung kali ini tak main - main dengan apa yang diceritakannya. Aku pun menulis secarik puisi untuk burung beritakan kepada semesta:
Namanya Terukir dalam Gemintang
Namanya
terukir dalam gemintang terang
Dari
bawah, Aku melihatnya senang sekaligus murung
Saat
ini aku merasa…
Ada
angan yang tak bisa digapai tangan, ada batas yang tak bisa dilibas, ada hati
yang tak mampu dihianati
Dan…
Kau tahu apa anehnya?
Kami
begitu dekat sekalgus jauh, hangat sekaligus dingin, ada sekaligus tiada.
Aku
yang lemah, mengadu pada Tuhan.
Hai…
Tuhan.
Ini
hanya godaan atau sesuatu yang harus aku perjuangkan?
Ini
sebuah kebaikan atau keburukan?
Ini
sebuah kasihmu atau murkamu?
Tuhan,
kusampaikan lirik lagu dari Tulus sebagai penutup doa “Jika dia memang bisa
untukku, sini dekat dan dekatlah. Dan jika dia memang bukan untukku, tolong
reda dan redalah.”

waw bung
BalasHapushehehe
Hapus