LEPAS
LEPAS
Aku duduk di balkon rumah
ditemani oleh kesunyian yang disuguhkan malam. Bintang-bintang menghiasi malam
yang hitam, tak lupa bulan pun menyala temaram. Semakin larut embus angin
membawaku pada khayalan tentang sebuah malam yang begitu kelam.
Sejak malam itu aku sudah
tidak bisa lagi mengaku, bahwa dia adalah alasanku untuk tetap merindu. Malam
seburuk-buruknya malam dalam hidupku, namun harus tetap aku terima dan ikhlaskan
semua itu. Pernah aku mencoba melupakannya, tapi caraku ternyata salah. Melupakan
bukanlah cara yang tepat untuk menerima sebuah kehilangan. Kini tiada lagi
sosok yang bisa mengerti atas segala derita yang kuhadapi akhir-akhir ini. Aku hanya
bisa bercerita atas segala derita pada lembaran-lembaran kertas tak berdosa.
Dulu ketika aku belum bisa
menerima kenyataan yang menimpa, aku kadang berhenti atau setidaknya menatap lekat-lekat
setiap kali aku melewati tempat yang pernah kami singgahi. Merasakan kembali
suasana saat kami berdua, menyesap dalam-dalam aroma tempat itu lalu terpejam
menikmati sebuah kehilangan. Menyakitkan sekaligus menyenangkan, itu yang
kurasakan setiap kali membayangkan dia yang sudah tidak berada di sisiku.
Aku tidak akan membencinya, karena
sesakit apapun sebuah perpisahan, bersamanya aku pernah menjadi orang paling
bahagia di dunia. Tidak adil bila aku harus membencinya.
Dia adalah wanita terindah
yang pertama kali singgah. Dulu dia sering tertawa atas leluconku yang tiada
lucunya sama sekali. Menyenangkan rasanya ketika kami menertawakan hal-hal
kecil yang sebenarnya tidak perlu ditertawakan dan itu sebenar-benarnya
kebahagiaan.
*****
Trrrt...
Ponselku bergetar memecah
keheningan yang sedang kunikmati di sisi malam. Terlihat sebuah nama yang tidak
aku ubah sejak dulu aku menyimpan nomor ponselnya.
“Kita bisa bertemu sebentar
gak?” Terdengar suara yang tidak asing lagi setelah aku mengangkat sebuah
panggilan.
“Mau apa?” Tanyaku singkat.
“Ada yang mau aku
bicarakan.” Ucapnya lirih.
“Kapan?” Aku menimpali.
“Nanti malam pukul 21.00 di
kedai kopi Mimpi.”
“Iya.” Aku menerima ajakkannya.
Setelah tiga puluh menit
dari percakapan itu, aku telah berada di tempat yang dijanjikan. Aku mencari
meja nomor sebelas. Karena kedai kopi yang tidak begitu luas, tidak perlu waktu
yang lama untuk menemukannya. Di sana duduk seorang wanita yang telah aku kenal
lama sebelum patah hati ini tercipta. Aku menghela napas lalu menghampirinya.
“Hai, sudah lama?” Ucapku
memecah lamunannya.
“Eh, Enggak kok, kamu mau
pesan apa?” Aku duduk bersebarangan dengannya.
“Samain aja.”
“Okei, bentar yah.” Ia
beranjak untuk memesan.
Kedai penuh dengan mahasiswa
yang sedang berkumpul menikmati kebersamaan, namun kami tetap larut dalam diam.
Kami masih bergeming karena tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Permisi.” Pelayan
mengantarkan pesanan.
Dua porsi roti bakar dan dua
gelas kopi susu hangat disuguhkan di atas meja. Aku mengangguk merespon pelayan
yang pamit meninggalkan kami.
“Apa yang mau kamu bicarkan
Nes?” Aku memecah keheningan.
Ines namanya, dia adalah
wanita terindah yang pernah singgah di kehidupanku. Wajahnya masih menawan
seperti dulu aku pertama bertemu.
“Aku gak bisa lupain kamu
Ga, aku bodoh dulu telah meninggalkanmu begitu saja. Walau aku punya seribu
alasan untuk mempertahankan. Maafkan aku telah menyakitimu teramat dalam,
maafkan aku telah mebuatmu kecewa. Maafkan aku atas segala dosa yang kuperbuat.
Maaf.” Matanya mulai berair.
“Iya gak papa, aku baik-baik
aja kok.” Jawabku ringan.
Sebuah jawaban yang membohongi
diriku sendiri. Diri ini sebenarnya terluka parah akibat perpisahan berdarah.
Sungguh, sampai saat ini aku masih mencintainya, namun aku tidak bisa kembali. Ada
hal lain yang harus kuselamatkan, agar tidak menelan kekecewaan seperti yang
pernah aku rasakan.
“Sekarang, mohon terima aku
kembali sebagai orang yang selalu ada. Kita mulai lagi dari awal, dari sebelum
masalah berengsek itu terjadi. Mau yah Ga?.” Aku tertegun mendengar
perkataannya.
“Maaf, aku ga bisa.” Aku
pergi meninggalkan Ines sendirian.
“Mau ke mana? Ga, Arga?” Aku
tidak menghiraukan panggilannya.
*****
Belum sempat aku membuka
pintu mobil, tanganku ditarik dari arah belakang dan aku pun menengok. Ada
sosok Ines yang berdiri sambil menangis. Wajahnya yang putih bersih memerh. Pipinya
tirus, bibir tipisnya digigit gigi putihnya menahan tangis meluap. Rambut
hitamnya terurai sampai menyentuh dadaa.
“Gak bisa Nes, aku gak bisa
kembali.” Ucapku memohon.
“Tapi kenapa?” Ia bertanya
tanpa merasa berdosa “Kenapa Ga, kenapa? Apa alasanmu?” Lanjunya.
“Gak bisa Nes!” Nada
bicaraku tidak sengaja meninggi.
“Ga, tapi kenapa? Setidaknya
kamu memberi alasan padaku.” Air mata mengalir membasahi pipinya sebelum
menetes pada aspal parkiran.
“Aku, sebenarnya aku gak baik-baik
saja setelah kamu pergi. Kamu meninggalkanku pada saat aku sedang butuh-butuhnya
dirimu di sampingku. Saat itu kamu memilih pergi bersama lelaki lain hanya
karena aku dulu gak punya apa-apa. Aku menahan sakit itu sendirian selama
bertahun lamanya. Aku susah payah bangkit dari kesakitan yang kamu berikan dan
aku tidak mau mengulanginya lagi.” Aku menahan air mata agar tidak keluar
begitu saja.
“Maaf, Ga maaf, Aku memang
bodoh, tapi mengapa dulu kamu gak menahanku untuk pergi Ga?” Tangisnya pecah.
“Aku gak ada hak untuk
menahanmu pergi, kamu berhak bahagia. Aku gak mau memaksakan kehendak pada siapa
pun, walau aku tahu itu akan menyakitiku.” Jelasku.
“Tapi, mohon terima aku
kembali Ga, aku mohon.” Ines menggenggam tanganku yang lemas tak bertenaga “Aku
kembali bukan karena sekarang kamu sudah punya segalanya, bukan karena kamu seorang
yang sukses, bukan Ga. Bukan karena itu semua.” Tangisnya semakin keras
sehingga menarik perhatian orang yang melintas.
Dulu ketika dia
meninggalkanku, aku sendirian dalam keheningan dan tangisan. Bahagia membuatnya
tidak peduli pada keadaanku saat itu. Jangankan untuk merangkulku, untuk mengingatku
saja rasanya pahit baginya. Kini aku masih menahan segala kekacauan hati yang
sekarang aku alami, bahkan lebih parah dari yang dulu pernah terjadi.
“Gak bisa Nes, sekuat-kuatnya
kamu memohon, aku tetap gak bisa menerima kamu kembali.”
“GA...” Ines membentak.
Aku memegang bahunya, dan
menatapnya dalam-dalam “Nes. aku gak bisa balikan sama kamu, gak bisa Nes. Aku
gak mau mengulangi kesalahanku lagi, aku gak mau tersakiti lagi. Aku gak mau
semua itu terulang kembali. Tolong Nes jangan ganggu hidupku dengan sakit yang
kau beri.“ Aku memohon.
“Tapi-”
“Gak ada tapi lagi Nes.” Aku memotong pembicaraan.
“Kamu sudah punya pacar?”
Aku terpaku mendengar pertanyaannya itu “Jawab Ga, jawab.” Aku menundukan
kepala.
“Iya, baru kemarin aku
jadian.” Ines semakian merancu menghadapi kenyataan saat ini.
“Putusin aja dia, dan balik
sama aku.” Aku tidak habis pikir perkataan itu akan keluar dari mulutnya.
“Tega kamu ya Nes, kamu
memang gak pernah berubah dari dulu. Aku gak mau sepertimu, menyakiti hati demi
hati yang lain. Sudah cukup aku saja yang merasakan, dia jangan.” Aku
menggelengkan kepala.
“GA.” Ines menahanku
kembali.
“CUKUP NES, CUKUP.” Aku menghempaskan
tangannya.
“Maaf Ga.” Dia menundukkan
kepalanya sambil menangis sesegukan.
Ines memunggungiku lalu
berjalan meninggalkanku. Ines adalah sebuah kenangan terindah yang akan
kujadikan sebuah prasasti di dalam benakku. Merusaknya hanya akan membuatku
sakit tak terhingga. Memang tidak ada yang salah dalam kata cinta, hanya saja tidak
semua manusia tahu cara mencinta. Itu yang terkadang membuat hati terluka.
“Selamat jalan, Nes, maaf
aku melakukan semua ini. Aku yakin setelah ini kita akan bahagia walau tak
bersama.” Ucapku lirih mengiringi langkahnya yang semakin menjauh.
Aku bersender di pintu depan mobil lalu duduk
dan menempelkan kepalaku pada lutut. Persis seperti anak kecil yang sedang
menangis.
*****
Semesta memang punya cara
sendiri untuk mendewasakan setiap manusia. Termasuk aku dan Ines di dalamnya.
Sekarang setelah dua tahun lamanya, sakit yang pernah kurasa, berubah menjadi
asa untuk bertahan hidup lebih lama. Aku sekarang bahagia bersama wanita yang
dulu kupacari sehari sebelum perisahan aku dengan Ines terjadi untuk kedua
kali.
Sekarang aku dan Diana
sedang bergandengan tangan di sebuah taman dengan cincin yang melingkar di jari
manis kami masing-masing. Menikmati senja ditemani segelas minuman hangat. Sengaja kami membelinya
hanya satu porsi supaya terasa lebih romantis.
“Eh, Ga?” Aku terkejut dan
mengerutkan dahi menanggapi panggilannya.
“Eh Nes, kok kamu di sini?
Ini pacarmu?”
“Ini suamiku Ga. Kalau
wanita cantik di sebelahmu?”
“Istriku.” Kami saling menjabat
tangan satu sama lain.
Kami berempat berjalan
bersama lalu duduk di kursi taman di dekat danau buatan. Kalimat perpisahan
yang pernah aku berikan pada Ines dikabulkan Tuhan. Kini kami bahagia walau
tidak bersama. Sejak aku bertemu Ines bersama dengan suaminya, aku tidak melihat
ada satu pun kerutan kesedihan yang Ines tampakan. Raka. Raka adalah orang yang
tepat untuk Ines, dan Diana adalah orang yang tepat bagiku. Kami saling melengkapi
kekurangan masing-masing dan menjadi sepasang manusia yang sempurna.
Langit sore seakan mengerti
kebahagiaan kami di sini. Langit menyuguhkan senja paling indah yang pernah aku
lihat. Jingganya menerpa wajah mereka, membuat wanita yang pernah dan sekarang
aku cintai terlihat jelas cantiknya.
Senja lenyap dari pandangan,
lalu malam memaksa kami untuk pergi ke tempat pulang masing-masing. Kali ini
bukan sedih yang aku rasa dari sebuah perpisahan, namun sebuah kebahagiaan yang
Tuhan berikan. Kehilangan bukan untuk kita sesali, namun untuk kita pelajari
agar tidak tersakiti untuk kesekian kali. Terima kasih Tuhan, telah menciptakan
aku sebagai seorang Arga. Aku tidak pernah menyesal telah lahir ke dunia yang indah
ini.
“Aku sayang kamu Na, sampai
kapan pun aku akan tetap sayang kamu.” Ucapku sambil menyetir mobil.
“Janji?” Tanya Diana sambil
meletakan kepalanya di pundakku.
“Janji.”
*****
Di tulis pada, 10 Mei 2020


Komentar
Posting Komentar