LENYAP DI TANGAN SENDIRI

 

Lenyap Di Tangan Sendiri

 

Cahaya mentari menelisik dari celah daun-daun kering yang tak lama lagi gugur diterjang angin. Suara langkah diiringi tawa terdengar di telinga, juga raut wajah gembira pada saat aku sedang melakukan aktivitas rutinan setiap pagi pun terlihat jelas di mata. Lari pagi di taman komplek perumahanku, suasananya sejuk, danau buatan yang luas pun menambah indahnya pemandangan yang disediakan Tuhan untuk hamba-hambanya. Aku pun bertemu berbagai jenis manusia di sana, tua-muda, bayi dan ibu-bapaknya, hingga orang-orang pacaran yang teramat tega menampakan kemesraanya di depan jomblo akut yang teramat takut untuk berpaut pada hati seorang wanita. Taman asri, aku terus berlari berkeliling sembari menenangkan diri dari dunia perkuliahan yang terlalu penat, untungnya libur semester selalu memberikan waktu untuk aku bersantai sejenak tanpa mempedulikan perkuliahan yang lumayan menmbebani benak.

Kakiku mulai lelah, dan langkah terhenti di sebuah kursi taman pinggir yang menghadap ke luasnya danau, aku meneguk minuman yang sebelumnya telah kubeli. Segar, begitu kerongkonganku dilewati aliran air mineral yang ku minum dari sebuah botol. Pandangan kuedarkan ke seluruh penjuru danau lalu memejamkan mata, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan hingga jantung kembali berdetak normal. Aku melepas sepatu yang kukenakan setelahnya aku mengedarkan padanganku lagi, ke arah kanan lalu kiri, saat itu pula mataku menangkap sesuatu yang janggal. Lumayan lama aku memperhatikannya namun aku bersikap tak peduli tentang apa yang barusan kulihat. Aku tidak sukak mencampuri urusan orang.

Setelah cukup istirahat dan waktu pun sudah agak siang, aku kenakan sepatu dan beranjak pulang ke rumah untuk sarapan. Kini aku jalan dan tidak berlari seperi tadi. Aku memasang earphone dan menyetel lagu “Indah Pada Waktunya” dari Riski Febian dan Aisyah Aziz. Lagu ini menggambarkan keadaan hatiku saat ini, pada lirik awal terdengar.

 

dalam harapku dan inginku kau ada di sana

di setiap langkahku dan mimpiku kau ada di sana

mungkin suatu saat nanti kau dan aku bersama

bedua kita jalin kasih dalam satu ikatan cinta.

 

Lirik lagu itu terngiang dalam ingatan hingga saatnya aku sadar telah sampai di depan rumah dan merebah sebelum bebersih diri dari keringat yang menempel erat pada tubuh lelah.

*****

 

Keesokan harinya aku kembali berlari di pagi hari di jam yang sama seperti hari kemarin, suasana pun tidak berbeda jauh dari kemarin, hanya saja hari ini udara terasa lebih dingin karena sinar mentari terhalagi awan yang sedang menahan tangisnya dakibat kejamnya dunia.

Aku juga kembali duduk di kursi taman yang sama seperti kemarin, dan melakukan hal yang sama. Kulihat sesosok yang sudah tidak asing lagi di mata ini, seorang perempuan dengan sedu di wajah cantiknya, entah karena apa. Namun dari yang tampak, sedihnya teramat dalam hingga mengalahkan sedihnya awan yang kapan pun akan ia curahkan dalam bentuk hujan.

“Sel, sendirian aja?” tanaya sesosok perempuan yang datang seperti jelangkung dari belakang tubuhku yang jangkung.

“Eh Sa, iya nih, tumben kamu  joging?” Timpalku.

“Hmm, kamu lagi merhatiin apa sih, serius amat.” Tanyanya penasaran.

“Tuh.” Kepala kudongakkan mengarah ke sosok itu “Kemarin aku lihat dia di sana dengan posisi dan muka yang sama. Sedih.” Lanjutku.

“Kamu suka sama dia?” tanya Salsa kembali.

“Ya kali Sa.” Ia tertawa “Terus ngapain merhatiin orang sampe segitunya kalo gak suka, ooo, kamu mau nyulik dia yah?”

“Sembarangan, dia tuh kemarin juga di situ dengan posisi dan keadaan yang sama.”

“Orang gila kali dia?”

“Ngacco mulu ah, lagi serius niii”

“Udah deh daripada makin ngaco, aku duluan ya Sel, ada urusan di rumah.” Aku hanya mengangguk.

Namaku Ansel Affandi, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di jawa, aku hidup bersama keluarga yang biasa-biasa saja dengan kedua orang tua, kakak, dan adik. Kakak aku sudah menikah dan ikut suaminya, sedangkan adikku masih SMA kelas 1.

Lama-lama diri ini rasanya ingin sekali mendekati dan bertanya pada perempuan itu, namun aku masih tidak mau mencampuri urusan orang lain. Tidak lama, kemudian ia berdiri dan melemparkan batu ke danau sambil berteriak amat kencang. Aku hanya memperhatikannya dari tempat yang sama. Dugaanku maasih sama mengapa dia bisa seperti itu. semakin memperhatikannya, aku pun semakin penasaran dia itu siapa.

Aku pergi untuk membeli minuman ringan di sebuah salah satu stand penjual minuman. Aku membali lagi ke tempat semula dan mataku kehilangan objek yang tadi kulihat dengan serius. Jam menunjukan pukul setengah sepuluh pagi, sekitar satu setengah jam aku memperhatikan perempuan itu. Aku membuka HP, lalu mencari dan memutar lagu dari Sheila On 7 “Hari Bersamanya.”

“Lah kok ilang?” Ketika aku memalingkan pandangan, rupanya dia telah pergi tanpa jejak.

 

*****

 

Di hari kedelapan aku menjalankan rutinitas untuk mengisi hari libur di sela perkuliahanku, aku duduk di kursi taman, kini lebih dekat dari kursi yang biasa ditempati perempuan itu. Kini aku berniat menghampirinya dan bertanya perihal semua yang membuatnya seperti itu dan membuatku penasaran sampai kini.  Ia masih terlihat murung sampai saat ini. Perempuan yang masih seumuran denganku itu rambutnya panjang seolah ingin menutupi kesedihannya dari dunia. Aku mengumpulkan niat untuk mendekatinya, menarik napas, meredakan gelisah.

Kakiku sidah melangkah, namun entah mengapa tak kuat untuk melanjutkan niat. Aku kembali duduk, memejamkan mata, menarik napas dalam sambil mengumpulkan keberanian dan tenaga untuk menghampirinya. Hampir saja aku putus asa, dan akhirnya kakaiku melangkah mengikuti tuntunan hati.

Aku duduk persis di sebelahnya, namun ia hanya diam tidak mempedulikan keberadaan aku. Sikapnya dingin, membuatku bingung untuk berkata-kata.

“H...hai, namamu siapa?” aku membuka percakapan dan ia masih menatap lurus mengarah ke danau.

Aku berpikir “Hai, namamu?-“ dan mengulangi pertannyaanku, lalu ia memotong perkataanku.

“Ga ada.” Jawabnya singkat dan membuat hatiku terjangkit jengkel.

“Masa ga punya nama?” aku menghaluskan nada sambil memilah dan memilih kata yang tepat “Namaku Ansel.” Aku mengulurkan tangan.

“Terus?” liriknya sedikit ke arahku dengan rambut yang masih menutupi sebagian wajahnya.

“Terus namamu siapa?”

“Peduli apa kamu tentang namaku dan diriku?” aku pun tertegun tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Aku perhatikan lebih dari seminggu ini, setiap pagi kamu berada di sini dengan posisi dan wajah yang sama.” aku menengok ke arahnya dan menaikan allis kananku.

“...” ia beranjak dan aku mengikutinya dari belakang seperti halnya mata-mata.

Langkahnya lunglai, kepalanya tertunduk, dan aku terus mengikutinya sampai di depan sebuah rumah dan ia masuk ke dalamnya. Mataku tidak bisa lagi melihatnya, aku pun memutuskan untuk pulang.

*****

 

Pagi ini setelah kejadian kemarin aku tidak lari pagi seperti biasanya, namun aku memastikan perempuan itu sedang duduk di kursi taman seperti biasanya. Dengan gegas aku mengeceknya, benar saja ia berada di sana. Aku tidak menghampirinya, kini aku akan mendatangi rumahnya untuk menanyakan segala tentangnya dan penyebab dia duduk di kursi taman setiap pagi sambil bersedu-sedan.

“Permisi.” aku mendatangi rumahnya, sengaja aku mendatangi rumahnya saat ia tiada di rumahnya.

“Sebentar.”  Teriak seorang perempuan dari dalam, lalu membukakan pintu.

“Mbak.” Aku mengaggukann kepala, ketika wanita yang seumuran denganku mebuka pintu.

“Siapa yah, ada keperluan apa?” Tanyanya bertubi

“Heum, boleh duduk dulu?”

“Boleh, silahkan.” Lalu ia juga duduk di beranda rumah bersamaku.

“Jadi gini, aku mau tanya-tanya tenteng perempuan yang setiap pagi selalu duduk di kursi taman di pinggir danau dengan raut muka yang sepertinya sedih teramat sedih, kemarin dia masuk ke rumah ini dan sekarang dia lagi di tempat itu.”

“Ooh, kamu gak tau kejadiannya?”

“Kejadian apa?” tanyaku penasaran amat penasaran.

“Semua orang di sini sudah tau, kamu memangnya orang mana?” tanyanya.

“Oh iya, namaku Ansel, aku tinggal tuh, di dua blok dari sini,”

‘Hmm.”

“Kamu seperti sangat mirip dengan wanita itu.”

“Iya, aku saudara kembarnya, kakaknya dia, namaku Laras.” Lalu ia ke dalam rumah, tak lama ia keluar dan membawa dua gelas air.

“Ras, ceritanya gimana dia kok bisa seperti itu?”

“Sebentar, kok kamu bisa gak tau sih, kemana aja selama ini?”

“Aku kos kuliah dan selama kuliah aku tinggal di kos, makannya kudet perihal info yang ada di sini. Ini aku di sini juga karena lagi libur semester.”

‘Ooh gitu.”

Ia mulai menceritakan tentang siapa perempuan itu dan semua yang membuatnya selalu murung yang seolah tiada berkesudahan. Lugas dan terang-terangan ia menjelaskan, agar tiada kesalahpahamann di antara kami maupun masyarakat luas, toh ini juga sudah menjadi rahasia umum. Jadi Laras dengan mudahnya menceritakan segalanya kepadaku. Aku sekarang mulai mengerti mengapa perempuan itu bisa seprti itu. Informasi yang sangat akurat sudah aku kantongi. Setelah aku berterima kasih lalu aku pergi meninggalkan kediamannya dengan hati yang  masih terganjal oleh entah apa.

*****

 

Dua hari perempuan itu tidak terlihat di tempat biasa, dan akhirnya kini aku dapat menjumpainya lagi. Keadaannya masih sama seperti dulu pertama kali aku bertemu di hari yang tabu banginya dan hari yang indah bagiku. Aku kembali duduk di sebelahnya dan dia pun masih bersikap dingin.

“Larrisa, apa kabar?” pertanyaan pertama keluar dari mulutku.

“Darimana kamu tahu namaku?” jawabnya parau.

“Aku juga tahu mengapa kamu bisa begini?” ia menengok ke arahku, dan menatapku dengan mata yang sendu “Tentang pacarmu.” Lanjutku.

“Kamu, tahu dari siapa?” Tanya ia penuh penasaran.

“Namamu Larrisa, Aviskha Larrisa?”

“...”

“Kamu tak perlu tahu aku dapat informasi tentangmu dari siapa.”

“...”

“Ungkapkanlah, ceritalah, jangan kamu pendam sendiri. Aku siap menjadi seorang pendengar tentang keluh kesahmu.”

Aku melanggar batas untuk tidak mencampuri urusan orang lain, aku melanggar peraturan paling penting, aku melanggar kodrat sebagai orang asing di dalam hidup seseorang. Segala tentang Larrisa kini telah aku ketahui dari kakaknya sendiri beberapa hari yang lalu.

“Gabisa.” Terjadi hening cukup lama di antara kami, aku memberinya waktu untuk berpikir.

“La?-”

“Namamu, Ansel bukan?” Aku mengangguk.

“Ansel Affandi.” Timpalku.

“A...aku tak punya siapa-siapa untuk bicara semua ini tentang, kembaranku, bahkan orang tuaku, mereka selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan tidak punya waktu untuk mendengar keluh-kesahku.” Air matanaya terlihat akan mengalir membasahi pipi.

“Cerita saja, ungkapkan, aku siap mendengarkan.”

 “Dulu aku mempunyai seorang yang paling kucinta, Axel namanya. Ya namanya tidak jauh dari namamu, hanya berbeda beberapa huruf saja. Dia itu orang yang peling mengerti aku, namun dia meninggalkanku dengan cara yang amat tragis, dia dibunuh di taman ini lalu ditenggelamkan di danau, tempatnya tepat di depan sana.” Ia menunjuk ke arah dimana jasad pacarnya ditemukan.

“ketika mendengarnya kabar seperti itu, aku langsung kehilangan arah, tak punya tujuan, dan hidup pun tak berharga lagi bagiku. Singkat cerita begitu.” Ia menangis, deras airmatanya keluar.

Tiba-tiba ia menyandarkan kepala di bahuku bajuku terasa basah setelahnya, aku coba menenangkannya. Pantas saja ketika aku bicara pada kakaknya, kakakya tidak ada rasa canggung bercerita tentangg adiknya kepadaku, orang yang baru beberapa menitt dikenalnya saat itu. dari kata-kata yang dikeluarkannya pun biasa saja, tiada kesedihan yang ia tampakan.

“Sudah, menangislah, luapkanlah semuanya agar kamu tenang.”

Orang seperti Larrisa sangat rentan untuk melakukan hal-hal yang dapat membahayakkan dirinya sedniri. Butuh perhatian ekstra.

“Axel dan aku dipisahkan dengan cara yang tidak aku inginkan sama sekali, jika dia meninggal dengan keadaan normal aku tidak akan semenderita ini.”

Berjam-jam kami duduk bersama, dengan segala lara yang dibagikannya kepadaku yang harus berlapang dada menerimanya. Lalu aku mengantarnya pulang tepat di depan gerbang kami berpisah dan aku berbalik arah untuk pulang.

*****

 

Larrisa pergi ke tempat yang biasa ia kunjungi, namun kali ini sore menjelang maghrib ia keluar. Menikmati senja di ujung hari yang tidak bisa memanjanya. Pikiran tentang Axel selalu bisa membuatnya melamun, pikirannya melayang entah kemana. Saat ia memejamkan mata, mulutnya langsung dibekam dari belakang lalu ia menerima pukulan dan langsung pingsan. Seorang lelaki membawanya ke semak di pinggir danau, suasana taman yang sepi mendukung aksinya melakukan hal yang amat tidak terpuji. Helai demi helai pakaian Larrisa dilepasnya, larisa tak melawan karena ia tidak punya kuasa untuk melakukannya. Tubuh putihnya terlihat indah, dengan gegas lelaki itu membuka bajunya, lalu mencumbu dan menikmasi tubuh Larrisa dengan paksa. Dari ujung kepala sampai ujung kakinya, telah di jamah oleh lelaki berengsek itu. Setelah puas, lelaki itu meninggalkan Larisa dengan keadaan yang seadanya, lemas tak berdaya.

Sore yang teramat kelam yang pernah Larrisa lalui, ia tak menyangka hidupnya akan semakin hancur. Ia tak berani untuk pulang dengan keadaannya yang seperti itu.

 

Untuk Axel

Aku teramat mencintaimu, teramat dalam, sangat dalam. Hanya ada satu orang lelaki yang behasil membuatku jatuh cinta yaitu kamu. Namun kamu meninggalkanku begitu saja. Kenapa? Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa semesta begitu membenci aku? Dan sekarang, sore ini, keperawananku direbut oleh entah siapa aku tak mengenalnya, dan aku tak pantas lagi untuk hidup. Memang tiada orang yang peduli padaku selain kamu Axel, walau pada akhirnya kamu juga sama seperti orang yang lainnya. Axel, Karena aku mencintaimu cerita bahagiaku berujung pilu.

Tertanda Larrisa

 

Ia menaruh HP-nya itu di samping tubuhnya, lalu ia mengeluarkan cermin dari tas kecil yang selalu ia bawa itu dan memecahkannya, dan tanpa pikir panjang ia langsung menggoreskannya pada urat nadi tangan kirinya. Ia lenyap di tangan sendiri.

“Axsel, aku akan menyusulmu. Aku kangen” Ucapnaya pelan dengan tatapan kosong.

*****

 

Pagi sangat mendukung untuk lari pagi, dan hari ini, hari terakhirku dirumah untuk bulan ini. Saat aku mendekati danau, aku melihat kerumunan orang di tepi danau. Entah apa yang mereka kerumuni, namun di tempat itu telah terpasang garis polisi, karena penasaran aku menghampiri kerumunan itu. Kaget, teramat kaget aku melihat sesosok mayat perempuan yang telah ditutupi kantung mayat dengan pakaian yang berada di atasnya.

Aku langsung menghampiri orang yang sudah tak lagi asing, laras yang saat itu sedang menangis. Aku bertanya padanya namunn tidak ia gubris.

“Bro ada apa ini?”

“Itu, ada pemerkosaan, dan berujung bunuh diri.”

“Siapa itu Bro?”

“Larrisa, anak blok sebelah.”

Setelah aku mendengar nama itu, kakiku seolah tiada daya untuk menopang raga, aku langsung membeli minum dan duduk untuk menenangkan diri. Aku tak menyangka hidupnya akan berakhir setragis itu. Aku menarik napas panjang, dan mengeluarkannya pelan.

Setelah dilakukan tindakan di TKP polisi mengotopsinya di rumah sakit, dan ke esokkan hari jasadnya dikuburkan di tempat pemakaman umun yang tidak jauh dari perumahan.

Kini Larrisa tenang di alam sana dan bisa bertemu kembali dengan Axel, lelaki yang teramat ia cintai hingga akhir hayatnya. Hidup mereka berakhir dengan cara yang sama tragisnya, Axel dibunuh dan Larrisa bunuh diri karena frustasi. Semoga Tuhan memberkati mereka dan menempatkan mereka di surga yang keindahannya tidak apat digambarkan oleh pikiran.

*****

 

Tujuh bulan setelah kejadian itu, aku masih jelas mengingat betapa riuhnya kerumunan itu, begitu pula hancurnya hati dan harapanku. Dulu sekitar dua bulan setelah kepergiannya, tuhan mempertemukanku dengan seorang mahasiswi semester akhir, namanya Riana, dia telah membuatku kembali menemukan bahagiaku setelah kejadian mengenaskann itu. Menurutku dia adalah orang yang tepat untuk dijadikan tempat untuk berpulang, dan hidupku telah kembali seperti semula sebelum mengenal Larrisa, bahagia, tapa lara.

*****



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer