Tanda Tanya

*****


Kamu tahu, setelah kepergianmu aku menangis sendirian dalam kegelapan malam? Kamu peduli atas derita yang selama ini aku alami? Apa kamu sedih ketika meninggalkanku? Tidak perlu kau jawab. Aku tahu semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak. Itu jawaban pasti yang akan keluar dari bibir manismu. Saat itu kamu pergi begitu saja, tanpa aba-aba. Aku mencari  selalu mencari perhatianmu atas dukaku. Namun kini bahagia membuatmu tidak peduli bagaimanapun keadaanku. Jangankan untuk merangkulku, untuk mengingatku saja pahit bagimu.

 

Memang di setiap pertemuan pasti ada sebuah perpisahan. Tapi bodohnya aku memilihmu sebagai pertemuan dan berakhir dengan perpisahan yang teramat menyakitkan. Bukan mencari orang lain yang akan membahagiakan. Setiap malam acap kali mata ini akan terpejam, rasanya selalu tertahan oleh kenangan-kenangan manis yang kini terasa kejam.  Walaupun kamu sebab dari semua itu, aku tidak akan pernah membencimu. Kenapa? Karena kamu pernah membuatku menjadi orang paling bahagia di dunia. Tidak adil bagiku jika aku harus membencimu. Dan apa dengan membencimu keadanku akan kembali seperti sedia kala? Sesakit inikah mencinta?

 

Aku dipaksa berdamai dengan keadaan yang kamu ciptakan. Coba bayangkan bagiamana rasanya  dipaksa. Enak? Sakit bukan? Memang tidak enak dan sakit rasanya, dan semua itu harus aku lalui demi pendewasaan diri. Entah sampai kapan semesta akan menguji. Sampai tua kah atau mati? Entahlah.

 

Saat itu aku punya berjuta alasan untuk mempertahankan, namun kalah oleh satu alasan yang kamu buat untuk sebuah perpisahan. Saat itu aku berpikir kamu berhak untuk bahagia walau kita tidak bersama. Namun lambat laun keputusanku mulai menggerogoti segumpal daging dalam diri ini. Hati. Hatiku kosong tak tertolong, hancur lebur bagai bubur. Sedangkan kau tetap sibuk dengan segala bahagia yang sedang kau nikmati bersamanya. Bagaimana mungkin wanita sepertimu bisa menyakitiku? Aku sempat meremahkan hal itu. Ternyata, kamu hampir saja membunuhku.

 

Aku merangkak membangun semua itu dari awal. Asal kamu tahu, itu tidak mudah. Setelah kepergianmu. kadang aku sengaja pergi ke tempat-tempat yang pernah kita singgahi bersama. Aku sesap dalam-dalam aroma di setiap tempat itu, lalu terpejam menikmati kenangan dalam keramaian. Ketika kau baca ini dan menganggapku bodoh, silahkan. Aku begitu juga karenamu.

 

Sampai detik ini jiwaku masih merintih, meminta pertanggungjawaban atas hati yang kau campakkan. Kamu. Kau. Sama saja, mengarah pada objek yang sama. Air mataku mengering tak lagi bisa menetes, karena kau telah menguras habis semua itu dari sumbernya.

 

Bertahun lamanya aku berada di dalam lingkaran derita. Entahlah mengapa aku tidak mau beranjak untuk memulai hidup baru dengan penuh keindahan sajak. Aku rasa, kamu juga membantu kesuksesan lingkaran itu memenjaraku. Pernah aku selangkah lagi keluar, lalu tercipta perkataanmu “Hai apa kabar?” seakan membuatku didorong kembali ke tengah-tengah sampai aku terengah-engah menahan kesakitan atas apa yang kau lakukan.

 

Aku meringkuk bagai udang yang dipanggang.

Kau tahu itu sakit?

Kau tahu satu kata darimu bisa menghambatku untuk bangkit?

Kau tahu...? Ah. Sudahlah.

 

Asal kau tahu sampai saat ini setengah hatiku masih kau bawa mengelana entah kemana. Tolong kembalikan, jangan kau buang pada samudera terdalam. Aku juga berhak bahagia, jangan kau renggut itu juga. Walau kelihatannya kau pasti tega untuk melakukannya. Sialnya, aku tidak bisa marah jikalau itu tetap kau lakukan.

 

Aku hanya ingin meminta maaf sebelum sukma dan raga ini terpisah.

Maafkan aku telah mencintaimu.

Maafkan aku...

Maaf.

Ma... af.

 

Untuk kamu,

aku masih di sini dengan segudang patahan hati.

Kamu dimana? Aku terus mencarimu tanpa henti.

Seegois itukah kamu kini? KEJAM. 

Sampai tak peduli pada orang yang dulu selalu kau nanti.

 

***** 

 

Catatan :

Baca jawaban dari dia, klik di sini

 


Komentar

Postingan Populer